Jika mengingat akan dosa-dosa, hati orang beriman pasti akan terus
menyesal, merasa sedih, bahkan sesekali bisa menetaskan air mata. Taubat
memang seperti itu. Orang yang dikatakan bertaubat dengan sebenarnya
bila ia menyesali dosa yang telah lalu, meninggalkan maksiat saat ini
juga dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi di masa mendatang. Sedih
dan terus menyesali dosa itulah jalan untuk kembali pada Allah.
Pada kesempatan kali ini, ada sebuah ayat yang patut kita renungkan
bersama. Isinya adalah mengenai keutamaan orang-orang yang bertaubat.
Mereka adalah orang yang dulunya penuh dengan dosa dan kubangan maksiat,
bahkan terjerumus dalam dosa besar, lalu menyesal, sedih dan bertekad
tidak akan melakukannya lagi. Allah Ta’ala berfirman mengenai sifat
hamba-Nya yang beriman,
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا
يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا
يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ
الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا
مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ
اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70)
وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
(71)
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah
dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali
dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang
melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan)
dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat
dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali
orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu
kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan
mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah
dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71)
Mengenai “Atsamaa”
Saksikanlah dalam ayat di atas, yang disebutkan adalah dosa-dosa
besar. Mulai dari dosa syirik, membunuh jiwa tanpa hak, dan berzina
disebutkan dalam satu ayat. Di akhir ayat ke-68, disebutkan bahwa mereka
yang berbuat dosa-dosa tadi akan berjumpa dengan “أَثَامًا”. ‘Abdullah
bin ‘Amr menafsirkan bahwa “أَثَامًا” adalah nama lembah di Jahannam.
‘Ikrimah mengatakan bahwa “أَثَامًا” adalah lembah di Jahannam di mana
di situlah disiksa orang-orang yang berzina. As Sudi menafsirkan ayat
tersebut dengan mengatakan, “Mereka akan memperoleh balasan atas dosa
yang mereka perbuat.” As Sudi menafsirkan seperti ini karena melihat
dari kelanjutan ayat setelahnya.[1]
Siksa yang Pedih dan Berlipat-lipat
Maksud ayat, “(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari
kiamat”, adalah mereka akan mendapat siksaan yang terus berulang dan
amat pedih. Sedangkan maksud ayat setelahnya, “dan Dia akan kekal dalam
azab itu, dalam keadaan terhina”, adalah mereka mendapatkan siksaan yang
begitu menghinakan.[2]
Termasuk Dosa Besar
Allah Ta’ala menyebutkan tiga dosa dalam ayat tersebut yaitu syirik,
membunuh, dan berzina. Apa maksudnya? Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di
rahimahullah menjelaskan, “Ketiga dosa tersebut termasuk dalam al kabair
(dosa besar). Syirik adalah dosa yang merusak agama. Membunuh adalah
dosa yang merusak jiwa. Sedangkan zina adalah dosa yang merusak
kehormatan.”[3] Itulah yang menunjukkan bahayanya ketiga dosa tersebut.
Syirik sudahlah amat jelas. Jika dosa syirik dibawa mati dan tidak
ada taubat terhadap dosa tersebut, pelakunya akan kekal di neraka. Allah
Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS.
An Nisa’: 48, 116)
Bagaimanakah dengan dosa membunuh dan zina? Apakah membuat seorang
hamba kekal dalam neraka? Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan,
“Adapun orang yang membunuh jiwa dan seorang pezina, mereka tidaklah
kekal di dalam neraka karena ada berbagai dalil dari Al Qur’an dan
sunnah nabawiyah yang menjelaskan hal ini. Dalil tersebut menjelaskan
bahwa setiap mukmin akan keluar dari neraka dan tidak kekal di dalamnya.
Setiap mukmin (selama masih ada iman) walau ia melakukan maksiat, ia
tidak kekal di neraka.”[4]
Wajib Bertaubat
Ketika seseorang terjerumus dalam kesyirikan, pembunuhan dan zina,
maka ia wajib bertaubat dari dosa tersebut. Bagaimana cara bertaubat?
Taubat tentu saja dengan taubat yang nashuha, taubat yang sesungguhnya. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan
taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8).
Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus
(taubatan nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah, “Menghindari
dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak
melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan
dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/
mengembalikannya.”[5]
Dalam surat Al Furqon yang kita bahas saat ini juga disebutkan
“kecuali orang yang bertaubat”, yaitu bertaubat dari maksiat dan
selainnya dengan menyesali dosa yang telah lalu dan bertekad untuk tidak
mengulanginya (di masa akan datang). Kemudian disertai dengan beriman
kepada Allah dengan benar yang menunjukkan bahwa ia meninggalkan maksiat
dan kembali mengerjakan ketaatan. Juga disertai dengan mengerjakan
amalan sholeh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan ia
melakukannya dengan ikhlas. Demikianlah maksud dari penjelasan Syaikh
‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah tentang tafsir ayat di atas. [6]
Kejelekan Diganti Kebaikan
Sekarang kita akan lihat maksud firman Allah,
فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
“Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al
Furqon: 70). Kata Ibnul Jauzi rahimahullah, para ulama berselisih
pendapat tentang maksud penggantian di sini dan kapan waktunya.
Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah
Allah mengganti kesyirikan yang dulu mereka lakukan dengan keimanan,
pembunuhan yang mereka lakukan diganti dengan menahan diri dari
melakukannya dan zina yang mereka lakukan diganti dengan menjaga
kehormatan dari zina. Ini menunjukkan bahwa penggantian tersebut ada di
dunia. Ulama lain yang menafsirkan seperti ini adalah Sa’id bin Jubair,
Mujahid, Qotadah, Adh Dhohak, dan Ibnu Zaid.
Pendapat kedua, yang dimaksud dengan Allah mengganti kejelekan dengan
kebajikan adalah di akhirat kelak. Yang berpendapat seperti ini adalah
Salman radhiyallahu ‘anhu, Sa’id bin Al Musayyib, dan ‘Ali bin Al
Husain. ‘Amr bin Maimun berkata, “Allah akan mengganti kejelekan seorang
mukmin dengan kebaikan jika ia mendapat pengampunan Allah.
Sampai-sampai ia sangka bahwa kejelekannya itu adalah amat banyak.”[7]
Ini menunjukkan bahwa sungguh luar biasa keutamaan orang yang bertaubat.
Ingatlah, Allah Maha Penerima Taubat
Selama seseorang tidak menganggap remeh dosa atau maksiat dan
menyesali setiap dosa dan kesalahan yang ia perbuat, maka niscaya Allah
akan ampuni dosanya. Entah itu dosa syirik, membunuh atau pun berzina.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka
sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang
sebenar-benarnya”. (QS. Al Furqon: 71). Ibnu Katsir rahimahullah
berkata, “Ayat ini mengabarkan tentang amat luasnya rahmat (kasih
sayang) Allah pada para hamba-Nya. Siapa saja yang bertaubat kepada
Allah, Dia akan meneri taubatnya seberapa pun besar dosa tersebut, entah
itu dosa yang luar biasa atau dosa yang sepele, entah itu dosa besar
atau dosa kecil.”[8]
So … Janganlah putus asa dari rahmat Allah!
Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Riyadh-KSA, 24th Rajab 1432 H (26/06/2011)